Selamat Tahun Baru 2010 ... marilah kita sambut dengan semangat baru ... untuk rekan2 mahasiswa selamat memasuki kembali masa perkuliahan semester Genap Tahun Akademik 2009/2010 .. semoga sukses ..

Monthly Archive for September, 2005

Gali Potensi Entrepreneur Lewat Kuliah Tamu

Perbincangan menarik mengenai entrepreneur tengah asyik berlangsung di ruang seminar geedung rektorat lantai tiga, Kamis (13/09). Sekitar ratusan mahasiswa teknik Geomatika ITS pun antusias mengikuti kuliah tamu dengan judul Entrepreneur Dan Manajemen Dalam Pengembangan Potensi Mahasiswa Geomatika. Hadir dua businessman sebagai pembiacara staf Kadin Jawa Timur, Dra Titut Sayekti dan pengusaha perusahaan data spasial Surabaya, Ir Fajar Asikin.

Gedung Rektorat, ITS Online - Tidak dipungkuri saat ini menjadi seorang wirausahawan merupakan pilihan tepat dalam menghadapi krisis ekonomi. Selain bisa mencapai keamanan secara financial, entrepreneurship juga dapat menghidupkan perekonomian lokal. Tak ketinggalan Teknik Geomatika ITS coba menggali potensi entrepreneur yang ada di bidang geomatika dan nantinya dapat diaplikasikan mahasiswanya.Tampak sangat berbeda dengan sebelumnya, kuliah tamu kali sedikit menyimpang dari bidang geomatika yang biasanya berbicara tentang pemetaan dan mekanismenya. Namun demikian, peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen sangat antusias mendengarkan penjelasan dari dua pakar di bidangnya.

Selain berfungsi mengganti mata kuliah di kelas, kuliah tamu ini sekaligus menjadi langkah awal sebagai pengenalan terhadap wacana entrepreneurship. Hal ini diharapkan juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa Teknik Geomatika ITS.

“Acara rutin yang biasa diadakan dua kali setahun ini, memang sedikit berbeda bukan hanya membahas masalah geodesi. Semoga dengan tema terkait mengenai entrepreneur dan manajemen dapat bermanfaat dan diaplikasikan oleh mahasiswa Geomatika,” kata Ir Yuwono MS selaku ketua program studi Teknik Geomatika ITS.

Dalam presentasinya, Dra Titut Sayekti memberikan appreciate kepada program studi Teknik Geomatika ITS. Pasalnya pada bulan Desember 2005, beliau telah menandatangani kontrak kerjasama mengenai entrepreneurship dengan ITS yang diwakili oleh Rektor ITS, Prof Ir Muhammad Nuh DEA. Pada 10 Nopember nanti akan diadakan soft launching sebagai wujud tindak lanjutnya.

Beliau menilai melalui kuliah tamu ini sangat efektif dalam menumbuhkan jiwa entrepreneur bagi mahasiswa. “Saya sangat bangga dan appreciate sekali di sini hingga dapat bertatap muka dengan mahasiswa Teknik Geomatika ITS dalam rangka menumbuhkan semangat berwirausaha,” tutur Titut.

Kaitannya dengan teknologi, Titut menyampaikan bahwa saat ini teknologi memiliki peran penting dalam meningkatkan kinerja suatu usaha. Oleh karena itu diharapkan melalui bidang teknik geomatika dapat memanfaatkan ilmunya sebagai sesuatu yang dapat dijual kepada publik.

Sering kali masalah modal menjadi kenadala bagi mahasiswa yang ingin berwirausaha. Modal utama dalam memulai berbisnis adalah ulet dan kejujuran. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Titut. “Pada awalnya membuka usaha, saya tidak memiliki modal materi. Tapi saya punya kejujuran dan keuletan. dengan menjalin hubungan dengan banyak orang, akhirnya saya bisa jadi broker kecil-kecilan,” ucap Titut yang juga direktur perusahaan furniture, CV Nusantara.

Ditambahkan oleh Ir Fajar Asikin, saat ini tuntutan teknologi ICT semakin bersaing dan mendominasi di berbagai bidang. Hal ini menjadi salah satu peluang bagi mahasiswa teknik geomatika untuk terjun menjadi seorang wirausaha. Salah satunya dengan mendirikan perusahaan data spasial yang mengolah, menyajikan suatu informasi.

“Peluang besar bagi bidang teknik geomatika, khususnya dalam pengolahan, penyajian data menjadi suatu inforamsi dengan aplikasi sistem informasi geografi (GIS, red). Pengaturan database menjadi masalah penting di sini,” jelas Fajar yang pernah bekerja di perusahaan IT ternama.

Selain presentasi dari dua pembicara, juga diadakan diskusi yang berisi tanya jawab oleh mahasiswa dan dosen seputar wirausaha. Diskusi berlangsung hingga pukul 12.30 dan diakhir acara ditutup dengan penyerahan cindera mata kepada kedua pembicara oleh program studi Teknik Geomatika ITS yang diwakili oleh Ir Chatarina Nurjati Supadiningsih MT. (han/rif)

Rektor ITS: Jangan Khawatirkan Pertambahan Jumlah Guru Besar

Graha Sepuluh Nopember, ITS Online - Selasa ini, (13/9), ITS menambah dua orang sekaligus di jajaran guru besar. Kedua profesor yang dikukuhkan bersamaan adalah Prof Bangun Muljo Sukojo dari Jurusan Teknik Geodesi sebagai Guru Besar bidang Ilmu Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis, dan Prof Triwulan dosen Jurusan Teknik Sipil sebagai Ahli Mekanika Bahan. Dengan begitu, jumlah Guru Besar ITS sekarang sebanyak 44 orang.

Bertambahnya jumlah Guru Besar itu dikatakan Rektor ITS, Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA, merupakan hal yang harus disyukuri. Menurut Nuh, saat ini masih ada hal yang disayangkan, sebab masih ada kekhawatiran civitas akan pertambahan yang drastis di jajaran Guru Besar ITS. ”Masih ada yang beranggapan bertambah banyaknya guru besar akan menimbulkan citra down grade dari kelompok guru besar itu sendiri,” ungkapnya. Anggapan itu, ditambahkan Nuh, sering kali dibenturkan dengan gelar guru besar yang bersifat pemberian (given) dan faktor elitisme guru besar yang sangat sakral sebagai kelompok kecil kreatif (creative minority) di suatu perguruan tinggi.

”Sebenarnya makna Guru Besar bukan itu. Guru Besar merupakan proses akumulasi prestasi akademik dan moral seseorang. Bertambahnya jumlah Guru Besar akan semakin menambah jumlah value creator akademik dan moral di perguruan tinggi. Jadi pandangan Guru Besar sebagai
kelompok creative minority harus segera diubah jadi kelompok creative majority,” tegas Nuh yang juga Guru Besar bidang Biomedika ini.Nuh lalu kembali mengungkapkan makna penting dibalik gelar Guru Besar. Nuh lantas berujar, Guru Besar di ITS memiliki empat fungsi, pertama sebagai pengakuan ITS kepada prestasi akademik seseorang. Kedua, suatu pemberian otoritas keilmuan di suatu bidang. Ketiga, suatu penghargaan terhadap proses panjang pengabdian di ITS, yang syarat minimalnya 20 tahun mengabdi.

Dan terakhir adalah fungsi pencerah, yakni sebagai obor keilmuan dan obor kepribadian kepada seluruh civitas. ”Seperti pada orasinya, Guru Besar selalu memberi nilai tambah baru kepada kita. Contohnya, Prof Triwulan, memberi inspirasi azas pemanfaatan pada limbah. Lalu, Prof Bangun memberi gambaran perkembangan ilmu Teknik Geodesi yang mengarah ke ICT,” kata Nuh menyimpulkan.

Jumlah guru besar di ITS kini telah di atas rata-rata nasional sebesar 3,4 persen. Seperti direncanakan ITS, tahun 2005 jumlah Guru Besar ITS akan bertambah sebanyak sepuluh orang. Dan sesuai Garis Besar Program Kerja ITS, pada tahun 2007 jumlah Guru Besar diharapkan mencapai 7 persen atau sekitar 70 orang. (asa/tov)

Satu Guru Besar PJ dan SIG Indonesia, Lahir di ITS

Teknik Geodesi, ITS Online - ITS menambah daftar guru besarnya lagi. Prof Dr Ir Bangun Muljo Sukojo DEA DESS yang juga dosen Teknik Geodesi, akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis pada Selasa (13/9) mendatang di Graha Sepuluh Nopember ITS bersama dengan Prof Dr Ir Hj Triwulan Marwan DEA dari Teknik Sipil sebagai Guru Besar Ilmu Mekanika Bahan.Selain menjadi guru besar pertama bidang Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (PJ dan SIG) di ITS, Bangun merupakan salah satu dari enam guru besar dari bidang ilmu yang sama dari Teknik Geodesi di seluruh Indonesia dan satu-satunya yang masih aktif sebagai pengajar. ”Ini karena dua dari kami telah meninggal dan tiga diantaranya telah pensiun,” terang Bangun yang juga ketua Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN) Surabaya ini. Kelima guru besar sebelumnya berasal dari Teknik Geodesi ITB dan Bangun menjadi satu-satunya guru besar PJ dan SIG (dari Jurusan Teknik Geodesi, red)yang berasal dari luar ITB.

Menurut alumnus Universitas Paul Sabatier, Toulouse, Perancis, penginderaan jauh dari waktu ke waktu berpeluang untuk semakin berkembang. ”Apalagi sekarang ini banyak metode penginderaan jauh yang telah digabung dengan informatika yang lebih,” ujar pria kelahiran Malang ini. Dengan perkembangannya yang pesat ini, diharapkan PJ dan SIG mampu diterapkan untuk membantu proses pembangunan Indonesia.Dalam pengukuhannya nanti, bapak dari dua orang puteri ini akan mengetengahkan orasi mengenai Kontribusi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Informasi Geospasial Ekologi Pantai dan Laut. ”Ini karena basic ilmu saya sejak S1 sampai S3 adalah penginderaan jauh yang terkait dengan ekologi,” terang ketua Ikatan Surveyor Indonesia (ISI) Jawa Timur ini.

Kecintaannya terhadap lingkungan pesisir dan pantai dapat dilihat dari hasil penelitiannya selama periode tahun 1987 sampai dengan 2005 yang berkutat seputar pesisir pantai dan laut. Hasil penelitiannya menyimpulkan PJ dan SIG dapat digunakan sebagai alat untuk pengkayaan informasi geospasial yang meliputi pekerjaan inventarisasi, analisis dan pengelolaan ekologi pantai dan laut. Inventarisasi dan analisa ekologi pantai dilakukan dengan studi kasus di pantai timur Sumatera yaitu Palembang, utara Jawa yaitu Jakarta, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, dan Situbondo, untuk pantai selatan Jawa di Segara Anakan Cilacap.

Pria yang juga aktif sebagai pembina Gerakan Pramuka Gugus Depan Surabaya 611 ITS mulai 1982 hingga sekarang ini, mengakui dibutuhkan banyak kesabaran untuk menempuh proses menjadi seorang guru besar. ”Semua tak bisa digapai dalam satu waktu, karena itu butuh kesabaran dan ketelatenan,” ungkapnya. Bangun berharap, ke depannya jumlah guru besar di bidang ilmu geodesi bisa bertambah. “Ini juga untuk kemajuan Geodesi di Indonesia sendiri,” ujar
peraih tanda jasa tingkat nasional “Dwidya Satya Perdana “pada 10 Nopember 2003. (rin/tov)